Aku rindu menjadi seorang penulis. Walau hanya segelintir orang yang membaca tulisanku, rasa puas telah membagikan pikiran melalui tulisanku pada orang lain memang tak ternilai harganya. Terakhir kali aku rajin sekali menulis adalah sebelum menikah, itu terjadi ketika ku jatuh cinta pada seorang lelaki,ya,cinta yang menjatuhkanku. tepatnya cinta pada seorang bocah berkelamin laki-laki yang tak mampu kusebut pria karena ia meretas hatiku tanpa rasa tanggung jawab dan meninggalkanku begitu saja. Ya,
Aku ingat benar, mencintainya kala itu membuatku gila kebaikan. Seperti aku jadi sangat rajin dalam semua hal. Rasanya mungkin seperti memakai obat yang mempengaruhi semangatku, ia tak pernah luntur.
Tapi rupanya, cinta yang kurasa serius itu memperbudakkudalam kebahagiaan yang fana. Aku menggila karena tak mampu memiliknya namun dia masih saja berhasil memaksaku untuk selalu mengikuti hidupnya, dan mimpinya, tanpa membawa diriku kedalamnya.
AKu tau benar, cinta macam itu, cinta yang selalu bikin deg2an pasiennya dengan rasa bahagia yang fana. Tapi ternyata bahagia itu hanya tampak di depan mata, bukan di genggaman tangan kita.
Itu hanya pengalaman masa puberku saja, sebenarnya aku...bingung untuk menulis tentang apa sekarang ini bukan aku tak merasa cinta lagi. Namun sebaliknya, rasa cintaku pada suamiku kini bukanlah pilihanku. Ia seperti tempe goreng hangat-hangat di depan mata, dan hanya waktu yang menjawab tempe mana yang akan berada di tanganku setelahnya. Ternyata itu, ya, dialah jodohku, bukan pilihanku.
Dia alasanku, yang membuat isi kepalaku berfikir keras untuk mulai menulis, yang sejatinya aku cinta menulis, Dia yang membuatku terlalu bahagia, membuatku susah berkata dalam hurufku sendiri. Aku benar-benar ingin berbagi padamu rasa ini, rasa menemukan jodoh yang tak kau pilih. Dia benar-benar hadia dari Allah SWT , kesempurnaan separuh keimananku, pelengkapku.
Kata apa yang patut kugunakan untuk melanjutkan coretan ini. Dia-lah priaku, setelah ayahku. Jika ayahku yang membimbingku untuk menemukan keberanian ini, maka Allah SWT-lah yang menyandingkanku dengannya sebagai keberanianku.
I Love You, suamiku.
Beri aku doa dan keberanianmu itu agar aku mampu menjadi Ibu cerdas bagi anak-anakmu, kelak.
Aku ingat benar, mencintainya kala itu membuatku gila kebaikan. Seperti aku jadi sangat rajin dalam semua hal. Rasanya mungkin seperti memakai obat yang mempengaruhi semangatku, ia tak pernah luntur.
Tapi rupanya, cinta yang kurasa serius itu memperbudakkudalam kebahagiaan yang fana. Aku menggila karena tak mampu memiliknya namun dia masih saja berhasil memaksaku untuk selalu mengikuti hidupnya, dan mimpinya, tanpa membawa diriku kedalamnya.
AKu tau benar, cinta macam itu, cinta yang selalu bikin deg2an pasiennya dengan rasa bahagia yang fana. Tapi ternyata bahagia itu hanya tampak di depan mata, bukan di genggaman tangan kita.
Itu hanya pengalaman masa puberku saja, sebenarnya aku...bingung untuk menulis tentang apa sekarang ini bukan aku tak merasa cinta lagi. Namun sebaliknya, rasa cintaku pada suamiku kini bukanlah pilihanku. Ia seperti tempe goreng hangat-hangat di depan mata, dan hanya waktu yang menjawab tempe mana yang akan berada di tanganku setelahnya. Ternyata itu, ya, dialah jodohku, bukan pilihanku.
Dia alasanku, yang membuat isi kepalaku berfikir keras untuk mulai menulis, yang sejatinya aku cinta menulis, Dia yang membuatku terlalu bahagia, membuatku susah berkata dalam hurufku sendiri. Aku benar-benar ingin berbagi padamu rasa ini, rasa menemukan jodoh yang tak kau pilih. Dia benar-benar hadia dari Allah SWT , kesempurnaan separuh keimananku, pelengkapku.
Kata apa yang patut kugunakan untuk melanjutkan coretan ini. Dia-lah priaku, setelah ayahku. Jika ayahku yang membimbingku untuk menemukan keberanian ini, maka Allah SWT-lah yang menyandingkanku dengannya sebagai keberanianku.
I Love You, suamiku.
Beri aku doa dan keberanianmu itu agar aku mampu menjadi Ibu cerdas bagi anak-anakmu, kelak.
Evia Nur Fadhila
Evia
@eviafadhila
Comments