Malam,aku masih selalu menikmatinya setelah senja beranjak dari duniaku. Mungkin juga duniamu.
Aku sadar aku masih menginginkanmu bahkan setelah kesepakatan kita tentang
cinta berakhir, namun biarlah kurasakan saja. Rinduku membuncah dada
menggetarkan pikir kalbu ini. Aku dan doaku masih menggantung di atap langit Sang
Raja atas keraguanku. Keraguan akan kesejatiannya, isi doaku denganmu. Apakah
sudah seharusnya alunan-alunan doa harapanku ini untuk mempertahankan
kepercayaan akan kesejatiannya, cinta ini. Aku hanya ragu, ragu bila disana
bahkan kau telah ragu denganku. Aku tak seperti dahulu, yang akan memintamu
percaya padaku dengan semua ucapan perkataanku. Aku ingin langit yang
menentukan, bahwa kau iya atau tidak adalah jawaban dari harapanku, doaku. Aku
ingin lebih mempercayai Sang Raja atas semua takdirku, karena semua kejadian
tidak mesti terjadi sesuai penglihatan dan pendengaranku. Saat sudah
mempercayai kita tak kan butuh kejadian untuk meyakinkan. Karena itu hanyalah
sepenggal perasaan yang kadang tersakiti atau terbahagiakan, ya, saling
melengkapi.
Aku bersyukur kita telah mengukir banyak
kenangan, prestasi hidup mana lagi yang lebih membahagiakan daripada kenangan
indah. Diantara keindahan kenangan itu kau tau, selalu ada rasa sakit yang
terselip. Sakit dan bahagia hanyalah sepenggal efek yang timbul atas sesuatu hal
pada hidup. Wahai Raja,beri dia kebahagiaan denganku atau tanpaku. Beri rasa
penerimaan penuh atas takdir yang Engkau berikan dalam hidupku, karena
sejujurnya meski aku tlah berserah diri terkadang sifat manusiawiku pada hasrat
untuk memiliki timbul muncul untuk bersamanya.