Malam langit Jogja tak kosong dari guyuran,
aku mengintip dari celah tirai kamar,
sedetik meringis senang,
dan seseorang yang jarang di dekatku.
Musik-musik modern ini entah mengejekku atau apa,
namun aku tak menikmatinya,
sedikit geser ke sebelah pintu masuk kamarku lebih segar dibanding...
hanya bersandar di dinding kamar,
yang berpenghuni tapi tak mempunyai nyawa bahagian.
Sedikit kawan berpenghibur,
banyak diantaranya berbohong,
lagaknya suka,
ternyata berkeluh tak kunjung henti dibalik mata dan telinga.
Malam langit di teras kamarku basah,
guyurannya membuat status alas kaki menjadi awas,
AWAS JATUH,
AWAS DINGIN,
AWAS...
Pintu kamarku berkeriat,
merunduk menutup perlahan,
tak enak meninggalkan sang hujan,
padahal hujan tak pernah sendirian,
dan tak mungkin sendirian,
kalau sendirian....namanya bukan hujan kan?
Malam,
detik-detik tak pernah berhenti..
Malam-malam menimbulkan banyak tanya,
aku ingin tau, 5 menit ke depan
5jam ke depan,
5hari kemudian,
5 tahun bahkan lebih...
Bagaimana aku akan menjadi aku?
Dengan siapa aku menjadi siapa?
Takut dan harap, biasa ...
Hujan,
pikirku sensitif saat kau datang,
bahkan lebih lama dari yang ku kira,
tak tentu arah pikirku tentang waktu ini,
tentang malamku dan hujan ini,
tentang apapun...
Harapku,
doaku,
pasti lebih dari seribu..
tanyaku, bimbangku..
memenuhi akar-akar otakku ..
waktu, biarkan diriku...