Mantera Gadis Jawa
Oleh : Evia Nur Fadhila
Oleh : Evia Nur Fadhila
(Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah B.Indonesia Smt 1)
Seandainya kehidupan adalah milik
manusia,maka ia tidak akan pernah mau berusaha terhadap apa yang diinginkannya.
Namun kehidupan ini milik Tuhan,dimana manusia hanya tamu yang dipersilahkan
sesuka hatinya menempati bumi-Nya. Berusaha hidup terhormat atau malah lebih
baik tidak hidup sama sekali.
Pernah saya saksikan secara langsung
kisah
seorang gadis jawa yang selalu mau berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan caranya sendiri. Dia tidak pernah bisa mengerti bagaimana orang lain bisa bahagia karena sebuah hal,namun yang ia pahami adalah ia tidak bisa menyerah terhadapa sesuatu yang ia kehendaki. Karena menurutnya tidak ada gunanya meremehkan kemampuan diri sendiri padahal Tuhan-Nya saja tidak pernah meremehkannya.
seorang gadis jawa yang selalu mau berusaha mendapatkan kebahagiaan dengan caranya sendiri. Dia tidak pernah bisa mengerti bagaimana orang lain bisa bahagia karena sebuah hal,namun yang ia pahami adalah ia tidak bisa menyerah terhadapa sesuatu yang ia kehendaki. Karena menurutnya tidak ada gunanya meremehkan kemampuan diri sendiri padahal Tuhan-Nya saja tidak pernah meremehkannya.
Seperti ketika ia harus melawan
salah satu penyakitnya sejak SD yang masih melekat erat pada dirinya,yaitu
demam panggung. Biar begitu Sang Guru gadis jawa itu selalu memberi motivasi
dengan cara yang tidak pernah ia sangka,seperti ketika waktu tahun 2012 ia
diharuskan oleh Sang Guru untuk mengikuti Olmpiade Pidato Berbahasa Arab di
Karesidenan daerahnya.
Waktu baginya sangat sedikit,bisa
kita bayangkan bagaimana sulitnya jika mempersiapkan sebuah pidato yang baik
serta harus dihafal diluar kepala jika waktu yang diberikan hanya tiga hari
tiga malam saja. Namun biar begitu Sang Guru masih bisa optimis saja melihat
muridnya kebingungan tidak menentu dengan apa yang akan terjadi pada hari H
besok. Melihat bagaimana tenangnya Sang Guru,gadis jawa itu sedikit tenang
untuk menghadapi itu.
Dengan mantera dari Doni Dirgantoro seorang
penulis hebat yang mengatakan bahwa AKU ADA UNTUK BISA,ia lebih bersemangat
untuk mengikuti olimpiade ini.
Semangatnya melemah saat ia mulai
lelah,mulai menurun dan menghilang,ia mulai
putus asa karena tenaganya seperti hilang diterpa waktu. Tiba-tiba angin
berhembus kecil dan jatuhlah secarik kertas terbalik, ia mengambilnya dan
membaliknya. Tampak wajah yang disayanginya,ia memanggil nama pemilik wajah
pada secarik kertas itu berulang-ulang. Ibu,ibu,ibu.
Gadis jawa itu bangun dari
kelemahannya,berupaya menyuplai tubuhnya yang mulai melemah larut itu untuk
kembali menguasai kekayaannya sendiri. Kekayaan otak untuk mendapat penghargaan
sebagai kebanggaan ibunya. Rupanya kata yang barusan disebutnya kembali memacu
semangatnya untuk menghidupi otaknya agar hidup kembali dari rasa putus asa.
Waktu telah memanggil pada hari yang
membuatnya mulai ingin kabur lagi,ini bukan soal kepintarannya dalam berbicara
di depan umum. Namun ini adalah soal bagaimana ia mampu mengendalikan gugupnya
di depan para pakar nilai,dosen! Dan bagi anak SMA seperti dia,dosen itu adalah
sesuatu yang mengerikan untuk dilawan.
Sang Guru tampak tidak menemani
gadis itu,namun wejangan sebelum ia bertempur masih terngiang jelas
dipikirannya,ingat sebuah hal bahwa ibumu menunggu kamu bahagia. Ya,dan
tampaknya mantera ibu memang manjur untuk seorang gadis jawa seperti dia. Gadis
jawa biasa yang pulang dengan senyum manisnya,senyum seorang pemenang.
Gadis jawa tersebut mungkin bukanlah
juara satu di olimpiade tersebut, namun bagi ibunya ternyata juara dua saja
sudah cukup untuk membuktikan betapa anaknya sudah mau bersungguh-sungguh
menggapai kebahagiaan, kebahagiaan untuk mengalahkan panggung.
Kesungguhan gadis jawa dengan
sedikit mantera untuk membuatnya bangkit lagi mengingatkan saya bahwa manusia
itu lemah. Namun dengan kelemahan itu,justru ia bisa membuktikan pada
dunianya,bahwa Tuhan akan selalu bersama para hamba-Nya yang lemah sehingga
membuat mereka mampu. Dan tentu saya tidak lagi lemah karena telah bersama
Allah.
