Skip to main content

Mahkota Budi Pekerti

Mahkota Budi Pekerti


(dikutip dari Buku Abu Nawas Menggoncang Dunia Karya Miftahul Asror, 2002)


  Ketika sahabat Ali bin Abi Thalib mengangkat senjata untuk meredam pemberontakan Muawiyah bin Abi Sufyan, tercetus ucapan yang mencekam perasaan, "Kalau aku sampai hati melawanmu, itu karena cintaku kepada persatuan umat Islam jauh lebih besar ketimbang cintaku kepada seribu Mu'awiyah dan sepuluh ribu Ali bin Abi Thalib."
  "Ikrar" itu dikumandangkannya sewaktu hendak memberangkatkan para prajurit ke medan laga. Ia teringat akan kecemasan Rasulullah SAW  kepada umatnya dalam menghadapi masa depan yang keruh apabila umat islam tidak hati-hati melangkah. Sabdanya, "Jangan-jangan nasibmu nanti seperti makanan di dalam nampan yang dikepung orang-orang lapar."
  Sahabat bertanya, "Apakah lantaran ketika itu jumlah umat islam cuma sedikit?"
  Nabi Muhammad SAW menggeleng, "Tidak. Jumlah umat Islam bahkan benyak sekali, tetapi bagaikan buih di permukaan air bah. Pada saat itu akan tercabut rasa enggan dari dadamu, sehingga musuh-musuhmu merasa tidak segan lagi kepadamu, sebab dihatimu telah bercokol penyakit wahan."
  "Apakah penyakit wahan itu ya Rasulullah?"
  Nabi menegaskan, "Terlalu cinta dunia dan sangat takut akan maut."
  Dalam penilaian Ali dan sejumlah sahabat lainnya, pemberontakan Muawiyah tidak berdasar kepentingan agama, tapi semata-mata usaha untuk merebut kekuasaan dari tangan Khalifah yang sah.
  Muawiyah dikenal haus akan kedudukan dan kemegahan, sehingga tempat kediamannya di Damaskus mirip istana para kaisar Romawi dan Parsi. Istana Muawiyah berbeda dengan RUMAH PARA KHALIFAH RASUL DI MADINAH YANG SEDERHANA.
  Seorang Yahudi dari Baitul Maqdisterheran-heran ketika berkunjung ke Madinah. Ia tidak melihat bangunan anggung dan indah tempat Khalifah tinggal. Ia lantas bertanya kepada salah seorang penduduk Madinah, "Dimanakah istana Khalifah?"
  Penduduk itu menjawab, "Di akhirat kelak."
  Yahudi itu makin terbengong. Dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya lagi, "Apakah Khalifah memakai mahkota?"
  "Tidak," sahut orang itu. "Khalifah memakai mahkota di hatinya, bukan di kepalanya."
  "Mahkota apa itu: mutiara atau berlian?" lanjut orang yahudi.
  "Mahkota budi pekerti," ujar warga madinah tadi.
  Mahkota budi pekerti itulah yang mewarnai kehidupan pada zaman Rasulullah SAW dan keempat Khalifah penerusnya, sehingga lingkungan yang tercipta ialah lingkungan yang sesrba jujur dan transparan. satu orang saja berbuat menyimpang, akan terasa akibatnya terhadap seluruh warga. Karena itu Rasulullah lebih suka kehilangan satu orang daripada merusak seisi lingkungan.
  Rasulullah bersabda, "Masyarakat ini ibarat menaiki sebuah perahu. Setiap penumpang sudah mendapat tempatnya masing-masing. Tiba-tiba salah seorang dari mereka melubangi perahu dengan kampak. Para  penumpang lainnya menegur, kenapa kamu lubangi perahu dengan kampak? Ia menjawab: "Inin merupakan hakku; aku bebas berbuat semauku."
  Rasul melanjutkan, "Apabila mereka sepakat merampas kampak orang itu, dia akan selamat sebagaimana penumpang seluruhnya. Tetapi jika ia dibiarkan melanjutkan perbuatannya dengan dalih bahwa itu haknya, celakalah ia seperti halnya penumpang lain yang akan tenggelam bersamanya."
  Mengingat sabda tersebut, Ali terkenang peristiwa sedih yang dialaminya. Suatu saat seorang pria berjalan melintasi kerumunan orang yang sedang berkumpul di suatu majlis. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata dengan nada penuh kebencian, "Aku tidak suka kepadanya." Ucapan itu disampaikan oleh jamaah kepada pria tai dan mereka lantas menghadap Rasulullah SAW.
  "Mengapa engkau tidak suka kepadanya?" tanya Rasulullah kepada si pembenci.
  Orang itu menjawab sebal, "Saya ini tetangganya ya Rasulullah. Saya tahu betul dia tidak pernah shalat, kecuali yang wajib saja. Itu belum cukup menunjukkan kesalehannya? Sebab shalat lima waktu saja bisa dikerjakan oleh orang yang baik maupun durhaka."
  Pria yang dituding itu menangkis, "Ya Rasul agar engkau menanyakan kepada dia, apakah wudhuku salah atau aku selalu mengakhirkan waktu shalat?"
  Rasul mengalihkan pertanyaan itu kepada si pembenci, "Bagaimana menurut penglihatanmu?"
  Pembenci itu menyahut, "Tidak ya Rasul. Wudhunya baik dan shalatnya tak pernah terlambat."
  "Jadi apa yang hendak kau persoalkan?" tanya Rasul kepada pembenci.
  "Dia tidak pernah berjamaah dan engga bergaul dengan masyarakat," sahut pembenci itu.
  Ali menyaksikan Rasulullah mengangguk-angguk lalu berkata, "Ketahuilah wahai saudara-saudaraku. Sebagai manusia yang waras apakah kamu suka memakan mayat sesamamu? Tidak bukan? Karena itu, janganlah berburuk sangka, sebab buruk sangka itu dosa. Jangan mencari-cari aib orang lain, sebab aib sendiri jarang kelihatan. Jangan pula saling bergunjing, lantaran kebiasaan bergunjing atau menyebarluaskan cacat orang lain adalah bagian dari maksiat besar. Dengan demikian itu dapat merubah persatuan."

Popular posts from this blog

imagination

rasa lapar dan patah hati biasanya akan mengubah hidup seseorang. tekanan keadaan dapat menjadi senjata ampuh untuk membangkitkan asa meraih segenggam nasi atau berlian dan mencari kebahagiaan yang sempat diimpikan namun salah tujuan. namun .... bagaimana bila seseorang telah terjebak di zona nyaman, entah karena sifat malas atau sifat yang terlalu nerimo dalam menanggapi hidupnya 😂... ini hanya sekelebat pikiran yang tiba-tiba saja muncul di fikiranku... aku yang sekarang masih mempunyai sisi yang sama dengan yang dulu..itu adalah aku tiba-tiba saja mempunyai kata-kata bagus di dalam kepalaku atau terfikirkan hal-hal di luar kehidupan yang sedang ku jalani... nampaknya banyak yang melihat kebahagiaanku dalam hidup, tentu harus begitu... karena hal-hal yang sedih tak bisa sembarangan begitu saja kita bagi kepada sembarang orang... KECUALI  kita gak ada banget dan gak punya banget tempat untuk berbagi(kecuali Tuhan), namun manusia cenderung merasa lega setelah mencerita...