Skip to main content

Masih inget ngga?

Masihkah kamu inget, pertama kekasihmu dan kamu seperti tersengat sesuatu di dada saat bertemu.

Masihkah kalian ingat, alasan apa yang kalian buat agar tidak jauh-jauh dari kalian.
Dan masihkah kamu ingat, dalam hatimu sebenarnya kamu bahagia banget kerena walaupun beberapa wanita lain mendekatinya tapi kamulah yang ada dalam penjagaanya



Aku, aku masih sangat ingat.
Bagaimana kamu menolak ajakan seseorang untuk mengelilingi Puncak Prau waktu itu, dan hatiku Bertanya apakan dia benar-benar ngantuk hingga menolak dari ajakan orang lain itu.
dan aku juga ingat, kamu mengiyakan permintaanku demi menemaniku berbagi kisah dengan Puncak Prau.
Aku  tahu, aku telah menebarkan pupuk cintaku sendiri di dalam benak ku padamu.
Kala itu, aku dan kamu ada di lembah daisy disana, berdua.
Kala itu, kita belumlah kita
tapi masih jelas dalam memoriku, caramu membalas tatapanku berbeda.
Antara tidak percaya dan sedikit mengikis rasa takutku akan kecewa, aku mengorek itu semua.
Tentang aku yang mencarimu dalam pandangan mataku.
Tentang perasaanku yang tenang terjaga oleh hadirmu didekatku.


Masih jelas dalam memoriku
Hingga sadarku kini, kita telah ada

This sentences was made by Evia for you in Town Mungkid , You are kind man and I was Love You.

Popular posts from this blog

m cmbck

Assalamualaikum setelah sekian purnama aku tidak melakukan ini. menulis fikiran ku disini. selama ini aku sibuk dengan hal-hal duniawi seperti mengurus keluarga yang keknya bukan pasion guwee bangett :v aku cek dulu sang pelawan arus masih ada kagak ya? aku ketik di gugel kok yang keluar karya orang lain yg judulnya pelawan arus.wkwkwk aku menjalani hidup sebagai orang normal, bukan seperti seseorang yang melawan arus.wkwkwk tp setidaknya aku melakukannya dengan gayaku sendiri gak ngikut2 dah cukup lah ya sebagai senior  melawan arus...hahahaha cita2ku menjadi menteri pendidikan karena asalnya aku suka dalam hal mendidik anak2 kicik. sekarang aku jalani hidup sebagai guru di 2 buah lembaga pendidikan kayaknya belum cukup tapi aku mencukup-cukupkan hatiku dengan takdir ini.wkwkwkk sama seperti warga negara lain terkadang aku berbincang dengan temanku persoalan negeri ini, tidak seserius Bang Tere Liye memang, tapi setidaknya aku tau kami masih waras dalam percakapan itu.hahaha takut...